Perjalanan Karier Herryanti Herman Menggeluti IT hingga Jadi Direktur


Berita ini diliput dan dipublikasikan secara online oleh Parapuan, Kompas Group. Link disini


Parapuan.co - Menyelami dunia teknologi menjadi pilihan hidup Herryanti Herman, Direktur PT Mitra Integrasi Informatika. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi perangkat hardware dan software komputer.


Bagi perempuan berambut pendek ini dunia teknologi bukanlah bidang yang sulit digeluti, terlebih sekarang teknologi sudah berkembang dengan pesat.


"Teknologi ini begitu cepat perkembangannya. Jadi, itu membuat saya harus terus belajar sampai sekarang," ujarnya sambil tersenyum.


Niat Herryanti Herman mendalami dunia teknologi juga akhirnya mengantarkannya menjadi salah satu Finalis Women ICT ⁣ASEAN 2021 Shinning Star.


Lalu, siapa sosok Herryanti Herman ini?


Ingin Jadi Apoteker

Herryanti mengaku kalau awalnya dia ingin masuk ke industri Farmasi. Kala itu, kebetulan sedang hangatnya tragedi Mei 1998.


Namun, sayangnya, keinginan perempuan asal Lubuklinggau ini tidak didukung orangtua. Padahal, dia sudah diterima menjadi mahasiswa melalui jalur Penelusuran Minat & Kemampuan (PMDK). Tempat kuliah farmasi berada di Surabaya.


"Awalnya mau jadi apoteker. Semuanya sudah siap. Cuma waktu itu sedang kerusuhan, jadi enggak bisa ke Surabaya. Tapi, orangtua enggak melepas saya ke Surabaya. Karena tidak ada keluarga disana. Lalu, kebetulan kakak saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Nusantara," ujarnya.


Dari situ, Herryanti akhirnya memilih masuk Computer Science, Teknik Informatika di Bina Nusantara University.


"Waktu itu di tahun 1998 itu jumlah mahasiswa perempuan enggak banyak. Tapi, saya beruntung karena punya teman-teman mendukung," ujarnya dengan semangat.


Herryanti Herman pun tak menyangka bahwa dirinya mampu untuk menggeluti dunia teknologi. Apalagi, ini merupakan jurusan yang tidak dia bayangkan sebelumnya.


Ini bukan dari hati, karena ini keadaan. Tapi, ini jalan Tuhan yang bimbing saya. Di sini begitu cepat perkembangannya dan ini menjadi tantangan saya," tuturnya.


Usai lulus kuliah, Herryanti pun melamar pekerjaan di Metrodata Sentra Layanan (MSL) pada 2002.


Saat itu, dia mengenyam profesi sebagai Helpdesk, Customer Care.


"Saya menerima panggilan telepon. Saya garda terdepan permintaan pelanggan baik informasi atau pun komplain.


Pekerjaan ini sangat berat, tapi sering dianggap remeh oleh orang lain. Namun, enggak segampang itu ternyata untuk interaksi dengan pelanggan," ujarnya.


Lantaran menemukan masalah itu, Herryanti pun mempelajari ilmu komunikasi dan public relation.


"Saya merasa butuh belajar namanya public relation. Tahun 2003, saya ambil PR di London School Public Relation. Itu adalah bekal bagi saya," ujarnya.


Berkat antusiasnya dalam mengembangkan dunia teknologi di perusahaan, Herryanti Herman pun sudah mengenyam beragam profesi untuk sampai di posisinya menjadi direktur.


"Saya pernah juga memiliki peranan sebagai Bid Manager, team presales, sales, operation, HR untuk Managed Services. Kata kuncinya managing partner. Semua ada kesulitannya sendiri.


Salah satu challenges adalah untuk merubah department Certified Training Center (CTC). Mulai dari sales dan operations. Dari situ, saya dan rekan kerja mengubahnya menjadi Metrodata Academy, yang memang basisnya training. Sebab, berjualan juga perlu teknik sendiri. Karena, selama ini kan kita hanya fokus ke B2B saja," ujarnya.


Metrodata Academy juga sebuah inovasi di bidang pendidikan untuk edukasi literasi digital dengan 4 pilar yaitu :

  1. Metrodata Training

  2. Metrodata Camp

  3. Metrodata Internship

  4. Metrodata Mengajar

Menghadirkan ruang ibu menyusui

Menjadi pemimpin perempuan rupanya membuat Herryanti juga berani untuk speak up. Apalagi di dunianya, perempuan masih begitu sedikit yang bekerja di STEM.


Hal inilah yang membuat Herryanti pun membuat beragam fasilitas ramah perempuan di perusahaannya.


"Justru adanya perempuan ini memberikan sudut pandang yang dibutuhkan oleh perusahaan. Di tahun 2010 lalu, saya merasa perempuan menyusui butuh yang namanya memberikan Air Susu Ibu, ASI," ujarnya.


Sebab itu, Herryanti pun mendorong perusahaan untuk menciptakan ruangan ibu menyusui.

Baginya, perempuan juga butuh ruang aman dan nyaman untuk memberikan ASI terhadap anaknya.


"Saat itu, saya bahkan belum menikah. Tapi, saya rasa penting untuk menghadirkan ruang ASI, karena ini penting untuk pertumbuhan anak. Mereka berhak mendapatkan ASI ekslusif dari ibunya sampai dengan berusia 2 tahun, sesuai kondisi masing-masing ibu. Bekerja dan menjadi ibu, jika bisa melakukan keduanya, kenapa tidak. Yang pasti, perusahaan memberikan dukungan" ujarnya.


Membangun Sekolah di Daerah

Meski sibuk di dunia teknologi, tapi Herryanti begitu peduli dengan pendidikan anak-anak di Indonesia.


Terlebih, belum banyak sekolah swasta yang bagus di daerah. Inilah yang membuat Herryanti, beserta kakaknya membangun Yayasan Putra Putri Bangsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.


"Pilihan sekolah swasta di daerah itu masih sangat sedikit. Jadi, ya, saya dan kakak saya, kebetulan dia juga ada di sana. Berinisiatif untuk mendirikan Yayasan Putra Putri Bangsa. Ini Sekolah dimulai dari TK sampai SMP," ujar perempuan lulusan Magister Management Program, Bina Nusantara University.


Oleh sebab itu, selain bekerja, Herryanti juga suka menjadi pengajar di sekolah yang dibangunnya tersebut.


"Challengenya itu mencari dan mendidik tenaga pengajarnya. Terus, bikin juga kurikulum yang bagus. Memastikan para pendidik mendapatkan update pada teknologi terkini dan metodologi pengajaran terbaik. Seperti mendapatkan training dan sertifikasi dari Google.


Semoga pendidik yang dipersiapkan baik mengajarkan banyak hal baik untuk anak-anak. Memang tujuannya ingin memberikan kemudahan akses pendidikan di daerah ," ujarnya.


Keren, ya Herryanti Herman ini!(*)


Penulis:

Tentry Yudvi Dian Utami


17 views0 comments

Recent Posts

See All