Teladan Toleransi Papa dan Mama

Updated: Jun 5, 2021


Aku Katolik , orang tuaku (papa dan mama) Buddha. Acek (adik papa) ada yang Islam juga. Jadi berbeda agama itu sudah ada denganku sejak masa kanak-kanak.


Sejak dilahirkan sampai SMP, aku dibesarkan dengan ajaran Buddha, jadi ketika masih SD aku mengikuti dua sekolah minggu, di Vihara dan di Gereja. Aku diasuh dan dibesarkan oleh Ayuk Ani (Ayuk adalah kakak dalam bahasa Palembang) seorang Muslim yang sering sekali bercerita tentang kisah para Nabi dan sahabatnya. Seru! Jadi belajarnya banyak kan..


Semua yang mengenal papa dan mama pasti setuju bahwa mereka memiliki kasih tulus kepada orang lain, kepada siapapun.. cenderungnya terlalu baik sama orang lain. Gak jarang kebaikan mereka dimanfaatkan orang, tapi ya udah lah yah. Kata mereka, bersyukurlah memiliki kesempatan berbuat baik, ada rejeki buat berbagi. Urusan kita sampai disini selesai, urusan orang jahatin kita, itu urusannya dia. 🤨 Aneh nda..


Aku kasih contoh yah, ketika ada salah satu langganan papa bangkrut karena kesulitan keuangan dan banyak hutang. Waktu itu, semua orang yang dihitungain pada marah-marah, maki-maki, jelek-jelekin dan mengambil semua barang-barangnya, apa aja yang dianggap berharga dan masih mungkin dijual dan menjadi uang. Ini reaksi wajar kan yah...


Kasus yang sama dengan reaksi berbeda ditunjukkan oleh papa. Papa malahan nanya, "Kau masih ado duit dak? Sekolah anak kau cak mano? Kapan lulus? " ya mereka cakap-cakaplah yah. Apa yang terjadi saudara-saudara diujungnya? "Kau peganglah ini." (keluarin cek dooooong, what?? orang hutang, gak bisa bayar, dikasih duit lagi.. logika berpikir macam apa pula ini papa.. 😮).


Sebagai anak, kami bingung.

Sebagai istri, mama ngomel tapi toh tetap mendukung keputusan papa.

Papa percaya bahwa rejeki itu Tuhan yang ngatur.


Jangan takut memberi, kita tidak boleh memiliki keterikatan dengan materi sampai mematikan hati nurani.

Ya elaaaaaaah pa. PR banget.

Mereka adalah teladan.. So proud being your daughters 🙂


4 April 1993 adalah salah satu hari paling penting dalam hidupku.

Mama dan papa mereka memberikan restu kepadaku untuk dibabtis menjadi Katolik.

Hari ini umat Katolik merayakan Hari Raya Minggu Palma, dengan nama pelindung Santa Clara (pengikut Santo Fransiskus dari Asisi). Konon, pertemuan mereka juga terjadi pada Hari Minggu Palma yang jatuh pada tanggal 4 April juga (ini baca dibukunya Kanisius). Kebetulan banget kan..


Mereka bilang, "Urusan agama, kepercayaan dan Tuhan adalah hubungan hakiki antara manusia dan Tuhannya. Tugas dan kewajiban kami adalah membimbing Tiek mengetahui, mana yang baik, mana yang tidak. Setelah Tiek memutuskan dibabtis maka Tiek bertanggungjawab penuh terhadap pilihan Tiek."


Papa dan mama pasti selalu mendukung anak-anaknya yang Katolik. Kalau pas ada acara lingkungan boleh mengadakan doa bersama dirumah, mama bantu siapin makanan. Ketika menyambut Natal kita memasang dan menghias pohon Natal juga gua kecil tempat kelahiran Tuhan Yesus.


Walaupun terkadang aku merasa sedikit miris yah.. Papa adalah penasehat yayasan Majelis Budha Indonesia di Lubuklinggau, bahkan salah satu pendiri vihara. Awalnya jadi Bendahara. Namun merelakan anaknya dibabtis Katolik..


Mama berpesan, “Apapun agamamu, jadilah pribadi yang baik. Kita baik sama orang, nggak ada jaminan kok orang baik sama kita. Apalagi kalau kita nda baik.. Kita harus berusaha terus menerus berbuat baik kepada orang lain, jangan menyakiti hati orang lain. Jangan lupa berdoa, minta kekuatan kepada Tuhan.”


Hal ini konsisten diingatkan mama kepada seluruh anaknya dan diamalkan oleh mama sampai akhir hidupnya. Mama memiliki kekuatan hidup yang luar biasa, aku percaya itu semua karena kekuatan doa.. Itulah jawabannya..


Oh yah, catatan tambahan yah, tetangga sekitar rumah kami itu adalah Muslim. Kebanyakan adalah Pak Haji/ Bu Hajjah, mereka sudah mengenal popo (nenek aku sejak duluuuu kala yah). Relasi dengan tetangga sangat baik, bahkan kalo lebaran banyak sekali kiriman ketupat. Demikian juga klo Sincia tiba, tetangga akan datang kerumah, sanjo.


Ketika popo meninggal sebagai salah seorang sepuh didaerah, tetangga minta izin kepada papa untuk mengelar pengajian buat popop. Tentu saja diperbolehkan. Niatan hati yang baik dan tulus berdoa agar popo dapat beristirahat dengan tenang dan semua amal ibadahnya diterima oleh Allah.


Demikian juga ketika acara mengenang 7 hari mama dirumah (mama meninggal dan dikremasi di Jakarta), banyak sekali tetangga yang datang sembahyang.


Papa dan mama memiliki kasih dan toleransi yang sangat tinggi, teladan sudah diberikan, tugas kami menjalankannya dengan sebaik-baiknya.


Hm… One day, kalo aku jadi mama. Apakah aku memiliki hati besar untuk melakukan apa yang pernah papa dan mama lakukan? Hmmm… Sulit nampaknya..


Anyway.. Mereka memiliki dan menunjukkan apa itu kasih dan toleransi terhadap orang lain, teladan sudah diberikan, tugas kami melanjutkan amanah ini dengan sebaik-baiknya.


Semoga aku bisa melanjutkannya.

Amin.



#katabijak #Refleksi #renungan

18 views0 comments

Recent Posts

See All